Skip to main content

Posts

Menjadi Shohibul Qur'an: Bagian I

Assalamu'alaikum warahmatullah wise readers.. Bagaimana puasanya? Tidak terasa sudah 7 hari 8 malam kita menjalani ibadah di bulan ramadan ini. Semoga Allah terus memudahkan hati dan langkah kita untuk selalu beribadah kepada-Nya. Aameen ya Rahmaan. Malam ini saya ingin sedikit berbagi pengalaman dan juga kesan pesan setelah mengikuti mukhayam satu hari bersama FHQ NH (Forum Halaqoh Qur'an Nurul Hikmah) di Medan. Kegiatan ini berlangsung selama satu harian dimulai dari pukul 08.00-19.30. Dalam kegiatan kali ini surah Al-Qur'an yang ditargetkan untuk dihapal dan dikaji adalah surah Al-Qiyamah pada juz 29. Sesi acara terbagi menjadi dua materi dengan tema masing-masing yaitu "Menggadgetkan Al-Qur'an di Hati" dan "Tadabur Ayat di Surah Al-Qiyamah". Pada kesempatan ini saya ingin berbagi tentang tema yang pertama terlebih dahulu, yaitu "Menggadgetkan Al-Qur'an di Hati". "Menggadgetkan Al-Qur'an di hati". Loh ini gimana si...
Recent posts

Angan Kafi

Sore itu semburat senja menyapu hangat bias diwajahmu Aku hanya bisa mengamati dari kejauhan Kulihat garis senyummu terlukis begitu sempurnanya Warna jingga di langit kala itu sama cerahnya dengan simpul di wajahmu Aku termangu menanti kau menoleh ke arahku Meski aku sadar mungkin itu lengkara dalam buritan langit Lirihku dalam hati mulai berbisik "Kemarilah, temani aku duduk disini. Senja kali ini ingin menyaksikan kisah kita berdua. Jangan biarkan dekapku hampa dengan jiwa yang masih mengganjil. Jadilah kita genap berdua dan saling menggenapkan" Picture: https://id.pinterest.com/pin/573294227559932123/

Perlina

Apa yang bisa ku ungkapkan pada hati yang merindu sentuhan racikan aksaramu Kita pernah saling menyapa Kita juga pernah se-iya sekata Hingga akhirnya kau pergi membawa perasaanku yang teramat berharga Dan hanya tinggalkan memoar penuh luka Tidak bisakah kita kembali ke masa itu? Masa dimana obrolan sederhana menjadi begitu hangat Masa dimana guarauan receh menjadi riuh Hingga tak ada ruang tersekat antara kau dan aku Kita, waktu dan jarak melebur dalam aksara yang saling sahut menyahut dilayar persegi panjang itu Kini hanya tersisa last seen mu yang jadi peubat sesak dalam qalbu  Sembari menunggu sapamu menghadiri ruang rinduku

Forlorness Bird

Lonesome-For De Morgen Magazine Sometimes, I want to be part of those crowds I want to be the part of that popularity I want to be the part of that pride Yet, I am nothing All my boundaries just left in a silence sound I do a monologue I write my own epilogue without any dialogue I am sinking in my own mind sometimes, it is minacious or marvelous All my words are encaged not to be heard by others Nonetheless, it sings for solitude and with no cares Pictures: https://id.pinterest.com/pin/547750373402220584/

Misteri Arunikamu

"Surya di Pagi Hari, Menyambut Arunika" katamu. Sebuah kalimat sederhana yang kutahu pasti tersirat banyak makna didalamnya. Aku tahu kau suka sekali bermain dengan kata-kata dan simbol semiotik Namun kalimatmu kali ini benar telah mengacak-acak jiwa dan pikiranku Aku benar-benar tak ingin terlihat olehmu Namun hatiku merindukanmu Bahkan aku juga berani cemburu Kau adalah sebongkah misteri di palung laut terdalam Mana mungkin manusia biasa seperti aku mampu meraihmu Belum sampaiku ke dasar mu, aku sudah hancur lebur lebih dulu Disikat oleh tekanan air dilaut dalam Lalu jasadku menari-nari bersama ikan-ikan kecil itu Berharap kau akan temukan puing-puing puisiku Aku tertawa dengan sendirinya saat melihat unggahanmu yang hilir mudik di linimasaku Tapi, aku bahagia. Karenanya aku mengetahui kau baik-baik saja, liriku dalam detak jantung yang tak berhenti berdesir. Bodohnya aku, secara suka rela jatuh dalam kegemaran semu. Satu atau dua helaan napas hanya mampu...

Atma Pujangga : Hidup Bersama Puisi

The Ballad of Two Moons by Marta Orlowska "Mampus kau dikoyak-koyak sepi" Sia-sia (Chairil Anwar) Ya memang sepi telah mengoyak-ngoyak hatiku yang dulu riuh Puisi dan absurditas imaji telah membungkam suaraku kedalam aksara yang diam Diksi-diksi itu juga sama hebatnya Sampai-sampai aku ditelanjangi oleh indah maknanya Tersihir alunan ritmenya Ah, kalian semua pandai Lihai bersekutu Aku hanya insan tanpa seni Kaku dan tak romantis Tak tahu apa itu puisi, apa itu larik; bait. Yang aku tahu sekarang, kata-kata ini bernyawa dan berdetak di nadiku Mengalir layaknya darah dalam pembuluhku. Kata-kata ini takkan pernah mati Meski nanti jasadku digulung bumi Mereka semua pasti abadi Semoga juga, nama ini (puisi) Selamat Hari Puisi Nasional Selamat bercengkrama dengan aksara Picture: https://id.pinterest.com/pin/64528207136343394/

Niskala

Kita adalah dua pasang rindu yang menanti untuk sebuah temu Kita adalah terpisahnya dua rangkai tatap yang menanti untuk segera menetap Dan kita adalah dua pasang hati tersesat yang ingin kembali bersama lebih dari sekedar sesaat.