"Bisakah kau lepaskan pelukkanmu, aku tak bisa bernapas", lirihku sambil menepuk lengannya.
"Aku merindukanmu Wani!" balasnya lagi tanpa mengindahkan permintaanku. Dekapnya semakin kuat membalut tubuhku. Aku tak tahu apa yang dia pikirkan, siapa dirinya juga aku bahkan tak tahu.
"Tuan, aku mohon lepaskan pelukanmu, aku benar-benar tidak nyaman" ucapku memelas ibanya dengan napas yang terseol-seol. Perlahan-lahan ia lepaskan rangkulan erat tangannya. Aku berusaha menyibak sketsa wajahnya dari balik temaram sinar bulan yang masuk lewat jendela kamarku. Saat aku hendak menengadah kearahnya seketika itu juga, bayangnya bergerak menjauhi ku langkah-demi langkah.
"Tuan, tuan, tegakah kau meninggalkanku setelah mengiris hatiku lewat pelukan hangatmu? Kembalilah tuan, izinkan aku mengenali rupamu"
Tanpa memperdulikan pintaku, bayangnya pergi semakin menjauh dan kemudian menghilang bersama gelap dibalik pintu....
"Aku merindukanmu Wani!" balasnya lagi tanpa mengindahkan permintaanku. Dekapnya semakin kuat membalut tubuhku. Aku tak tahu apa yang dia pikirkan, siapa dirinya juga aku bahkan tak tahu.
"Tuan, aku mohon lepaskan pelukanmu, aku benar-benar tidak nyaman" ucapku memelas ibanya dengan napas yang terseol-seol. Perlahan-lahan ia lepaskan rangkulan erat tangannya. Aku berusaha menyibak sketsa wajahnya dari balik temaram sinar bulan yang masuk lewat jendela kamarku. Saat aku hendak menengadah kearahnya seketika itu juga, bayangnya bergerak menjauhi ku langkah-demi langkah.
"Tuan, tuan, tegakah kau meninggalkanku setelah mengiris hatiku lewat pelukan hangatmu? Kembalilah tuan, izinkan aku mengenali rupamu"
Tanpa memperdulikan pintaku, bayangnya pergi semakin menjauh dan kemudian menghilang bersama gelap dibalik pintu....
Comments
Post a Comment