Tiba-tiba sekelebat bayangan muncul dari balik daun pintu yang bergoyang itu. Ku lihat sosok lelaki bertubuh tinggi dengan rambut panjang sebahu sedang mengintai tidurku dengan tatapan yang memanggil. Ku singkap selimutku, perlahan beranjak dari tempat tidurku dan berjalan menuju sumber bayangan itu.
"Wani, tidakkah kau rindu denganku?" celetukknya mengagetkanku. Aku kira hanya ilusi ku bahwa dia benar-benar bayangan semata.
"Siapa kau? Apa yang kau lakukan dikamarku malam-malam begini? Bagaimana kau bisa masuk?" tanyaku langsung menyerangnya.
Tiba-tiba, sebuah pelukan menghampiri ragaku.
"Aku rindu Wani, aku rindu, sangat rindu" lagi-lagi dia mengucapkan rindu tanpa peduli dengan pertanyaanku. Tubuhku hanya bisa terbujur kaku dalam pelukannya yang hangat dan entah mengapa hatiku merasa teriris seketika mendengar lirihnya yang ungkapkan rindu.
"Siapakah dirimu, wahai tuan?"
. . . . . .
"Wani, tidakkah kau rindu denganku?" celetukknya mengagetkanku. Aku kira hanya ilusi ku bahwa dia benar-benar bayangan semata.
"Siapa kau? Apa yang kau lakukan dikamarku malam-malam begini? Bagaimana kau bisa masuk?" tanyaku langsung menyerangnya.
Tiba-tiba, sebuah pelukan menghampiri ragaku.
"Aku rindu Wani, aku rindu, sangat rindu" lagi-lagi dia mengucapkan rindu tanpa peduli dengan pertanyaanku. Tubuhku hanya bisa terbujur kaku dalam pelukannya yang hangat dan entah mengapa hatiku merasa teriris seketika mendengar lirihnya yang ungkapkan rindu.
"Siapakah dirimu, wahai tuan?"
. . . . . .
Comments
Post a Comment